Rabu, 24 April 2013

Sepaket Keripik Pedas dan Es Krim Cokelat




Berapa waktu yang lalu ada seorang sahabat yang memberi masukan-masukan pada tulisan saya melalui chat. SPOK-nya masih belum pas. Tentu, saya berterima kasih atas hal itu. Karena peran sahabat, bukan hanya sekedar berada dalam suka dan duka yang kita miliki. Tapi bisa memberi nasihat bila ada kekhilafan, memberi kritik bila ada ketidakpasan, memberi pujian bila memang pantas dipuji. Meminjam istilah seorang gadis cantik yang cerdas.  Sepaket Kripik Pedas dan Es Krim Cokelat.
Respon? tentu saja saya langsung merespon, karena itu kebaikan buat saya. Apalagi saya masih sangat bodoh dalam soal tulis-menulis.
Dan sore itu juga, saya berniat untuk membeli buku Komposisi Bahasa Indonesia, atau sejenisnya. Sayang, hujan cukup lebat. Perlu cukup pertimbangan untuk sekedar memutuskan keluar dari kediaman.
Memutuskan?
Kata memutuskan, tiba-tiba menyusup dalam pikiran saya. Memutuskan adalah ujung dari pertimbangan. Memutuskan tanpa pertimbangan itu membabi buta. Pertimbangan tanpa keputusan itu sia-sia. Dalam permainan catur saja, perlu kehati-hatian dalam melangkahkan bidak-bidaknya. Jangan sampai karena terlalu bernafsu menyerang, tapi lupa dengan pertahanannya. Tapi juga sebaliknya, jangan sampai karena terlalu asyik membangun pertahanan, lupa membuka langkah menyerang. Ya, strategi pertahanan juga harus dibangun, seiring dengan membuka langkah untuk menyerang. Melihat medan adalah keharusan. Karena kita perlu tahu, langkah lawan main kita. Belum lagi, suara penonton yang tak sabar dengan proses pertandingan. Ya, semua hal itu, bisa sangat mempengaruhi suatu kecantikan permainan. Karena, kecantikan permainan, itu yang akan dikenang oleh lawan maupun kawan. Terlepas kita akan menjadi pemenangnya ataupun tidak.
Ah, hal itu bisa jadi berlaku untuk hal lain, bisa jadi juga tidak ...
Kenapa saya mesti menelaah hal tersebut, aneh-aneh saja saya ini. Bukankah tadinya, saya hanya ingin ke toko buku. Hehehe....
Akhirnya saya memutuskan untuk menerjang hujan sore itu, tanpa  sepeda motor saya.  Biarkan dia merana sendirian di garasi.
Menyingsingkan celana, sampai dibawah lutut, lalu menyambar payung. Melangkahkan kaki, pada rintik-rintik hujan yang demikian elok menari di atas jalan.
***
Senyum penjaga toko buku, menyapa saya sesampai di sana. Saya, menuju pada rak buku tentang ketata bahasaan. Tidak sukar untuk menemukan buku Komposisi Bahasa Indonesia.  Saya, jadi gelap mata kalau sudah di toko buku. Kalau tidak melihat ukuran kantong.  Banyak buku yang ingin saya beli. Padahal, diperpustakaan mungil saya di kos-kosan. Ada puluhan buku yang sudah saya beli, dan belum sempat dibaca. Salah satunya adalah bukunya Ibnu Khaldun, Mukaddimah, yang tebalnya lebih dari seribu halaman.
Dan sore itu, satu kantong plastik berisi dua belas buku. Siap dibawa pulang.
Dalam langkah kaki pulang, sore itu, saya mengucapkan terima kasih, kepada semuanya yang telah tidak bosan mengirimkan sepaket keripik pedas dan es krim cokelat....:D









Tidak ada komentar:

Posting Komentar